(Sebuah Persembahan Sumpah Pemuda 28 Oktober, 2017)
Muhammad
Alifuddin
(Aktivis IMM, dan Pemuda Muhammadiyah
Kota Bima)
Pertarungan yang tidak seimbang
antar negara, akhir-akhir ini tidak lepas dari gagasan globalisasi yang memihak
dan keinginan primordial kapitalisme Barat untuk mengakumulasikan the wealth of nations (kekayaan-kekayaan bangsa-bangsa) di seantero
dunia untuk kepentingan their nations
(bangsa-bangsa mereka). Skenarionya sederhana, mekanisme pasar bebas membuat
mungkin bagi korporasi-korporasi multi nasional untuk merekayasa harga barang
dan produksi turun. Salahsatunya jikalau harga gabah turun, petani Indonesia
kalang kabut. Akhirnya terpaksa sebagian dari mereka berbondong-bondong mencari
profesi lain. Di sini, berbagai Multi National Corporation yang membutuhkan
tenaga kerja murah dapat melakukan berbagai kegiatan manufakturnya di Indonesia
dengan harga tenaga kerja yang teramat murah. Karena mereka telah memiliki
supply calon tenaga kerja yang tidak mempunyai lagi pilihan dan bargaining
position. Supply calon tenaga kerja dalam jumlah besar, akan mengikuti hukum
kompensasi ala David Ricardo, para tenaga kerja mau tidak mau rela menerima
upah yang di bawah KHM (Kebutuhan Hidup Minimal), hidup segan mati tak mau... isu
komunisme tidaklah menarik, sebab itulah sebuah peralihan, modus dan alibi yang
merubah cara pandang untuk tidak serisu menangani peran kaum kapitalisme
global, sosialime (Komunisme) ibaratkan beras, dan kapitalisme adalah nasi yang
siap di makan dan di kosumsi
Apakah kita saat ini telah
benar-benar merdeka? Dan apakah para penjajah dari Barat yang telah malang
melintang menyedot seluruh kekayaan dunia dalam lima abad terakhir ini
benar-benar kini telah sadar dan benar-benar secara hakiki menjadi orang yang
paling beradab, bahkan menjadi pembela paling gigih dari Hak Azasi Manusia ?
Benarkah mereka ingin memperjuangkan liberty, equality dan egality dalam arti
yang sesungguhnya?
Pertanyaan pertama dapat dijawab
dengan mudah, secara de jure kita telah
tujuhpuluh dua tahun merdeka. Namun secara de facto, jelas kita belum merdeka
untuk menentukan nasib kita sendiri. Apabila
di Jepang untuk proteksi petani dapat dibuat aturan pajak impor 400 % dari harga, kenapa untuk memperoleh
pajak impor 30 % dari harga gula saja
kita mesti mengemis-ngemis dulu ke pihak asing?
Bagaimana pula dengan proteksi
harga gabah, untuk kelangsungan kehidupan para petani kita?
Kini ide globalisme dengan proposisi
utama globalisasi meniscayakan
ketidakmungkinan kita untuk menolak keterkaitan global, nilai-nilai global dan kepentingan global telah menjadi
suatu hegemoni. Sebuah hegemoni, menurut
Antonio Gramsci, membuat pihak-pihak yang sebenarnya terjajah malahan mengakui
superioritas yang menjajah, dan secara
sukarela membiarkan diri mereka dijajah. Selain itu, malahan hegemoni
membuat pihak yang terjajah mati-matian mempertahankan kepentingan para
penjajah.
Ada empat serangkai yang menciptakan
hegemoni kapitalisme global. Pertama,
korporasi-korporasi raksasa dunia yang kapitalis, paling tidak demikianlah menurut David C.Korten,
dalam “When Corporations Rule The World”. Dalam simbolisme agama, ini disimbolkan oleh Qarun. Kedua, para penguasa dunia, dalam hal
ini adalah Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa yang terkait. Dalam
simbolisme agama, ini disimbolkan oleh Firaun. Ketiga, para teknokrat,
yakni yang telah merancang berbagai sistem globalisme untuk dan demi
kepentingan Barat. Sistem ini mengandung PBB dengan Dewan Keamanannya,
yang sering bertindak sangat tidak adil.
Bandingkan misalnya masalah Kashmir yang sudah lima puluh tahun dengan
referendum Timor Timur yang baru lalu.
Sistem ini juga mengandung World Bank, IMF, jaringan bank-bank besar di Barat. Uang-uang yang
dikumpulkan melewati para penindas di
seluruh negara dunia ketiga melewati Bank Swiss misalnya, akan dipinjamkan lagi
menjadi utang-utang yang mengikat dan akhirnya merampas kemerdekaan
bangsa-bangsa dunia ketiga. Demikian juga uang-uang yang dikumpulkan melalui
berbagi perusahaan asuransi tingkat dunia.


